Gue adalah salah satu murid pintar di SD gue. Tapi semua berubah semenjak negara api menyerang. Maksudnya, di dalem kelas gue sekarang di SMP ada anak shaleh pinter bin rajin dan anak bedebah beleguk bin males. Ya, gue termasuk "bedebah beleguk bin males." Sampai sekarang gue lupa udah berapa kali gue diomelin dan dihukum, sekaligus pernah masuk bk belum lama ini.
Lalu setelah gue lap ujung pipanya (bekas Mawan dan teman-temannya), gue memasukkan pipa ke mulut, memencet tombolnya, dan menghisapnya.
Semenjak insiden nekat itu gue dipanggil "Legend." Apaan? The Legend of Fanny? Buset gaenak bener.
Ngomongin tentang bandel. Beberapa waktu yang lalu gue bergosip-gosip dengan para cewek (yang kadang 75% bener.) Ada banyak temen gue yang "nakal", atau dulunya alim tapi berubah jadi "nakal." Salah satunya Rina. Belakangan ini dunia gosip merajalela dan semakin bengis. Segala sesuatu yang buruk dijadikan yang paling buruk. Jadi si Rina ini sering berpakaian minimalis di luar maupun di dalam rumah, bersama atau gak bersama pacar (maksudnya cemceman). Dia dan teman-temannya juga sering nyewa hotel buat tidur rame-rame. Untung sejauh ini yang gue denger cuma temen ceweknya yang diajak nginep di hotel.
Ada juga Bircil yang katanya pernah foto cuma pake daleman trus di share di akun socmednya, atau Nica yang foto pake croptop dan hotpants yang menampakkan bulatan perut menggelembung penuh arti.
Gue mengakui diri gue sebagai anak yang bandel. Gue melawan, memberontak, ngelunjak, suka mencoba. Tapi tunggu, gue gak separah itu. Gue hanya suka mencoba yang baru. Setelah gue mencoba hal yang gue tau itu buruk banget, gue gak akan mencobanya lagi. Gue bukan cewek mainstream yang nurut-nurut aja, cengeng, atau cewek macem Rina, Bircil, Nica, atau jablay-jablay malam pecinta cengtri dan baju ketat yang bahan percobaannya aneh-aneh. Gue cuma gak mau kelihatan munafik dan lemah. Kadang gue kelihatan gak peduli dan cuek-cuek aja sama urusan pribadi maupun akademik gue. Tapi sebenernya gue kepikiran banget. Kenapa gue tenang-tenang aja? Karena gue tau apa yang akan terjadi setelah itu, dan gue gak perlu panik atau menangis untuk hal yang sia-sia selama masih ada kesempatan lainnya. Tapi gue punya batasan.
Bahkan pas guru bahasa indonesia gue yang super bulat dan udah tua lagi disorakin karna omongannya gak jelas, gue marah banget sama temen-temen gue yang nyorakin dia. Pake kata-kata kasar lagi. Ih gak bisa maklumin apa, dia kan orang tua. Yah intinya gue gak sebandel mereka lah. Setelah gue melihat kisah nakal menyeramkan teman-teman sekolah gue itu, gue mulai tau fungsi peraturan, kedisiplinan, dan kesopanan memuakkan yang harus gue anut dari rumah gue itu.