Yeah, you might have somebody
No, but you don't got me
Oh, but your thinkin' 'bout it
Yeah, it's so easy to see
I won't tell nobody
Nobody's gonna tell on me
We both know it baby
Exactly what this could be
But sometimes you can't hide
The way you feel inside
Your love is the only thing
I can't live without it
It's too good not to talk about it
About your love
And I wanna know
How exactly did I get around it?
How did I ever live without it?
Without your lovin'
A little bit of lovin'
Beats a whole lot of nothing at all
You've got this thing about you
And that thing is just what I need
You deserve a little something better
And I'll be waiting patiently
I've been thinking 'bout our life together
Even if it's the death of me
And I know I'll never live forever
But I don't wanna wait and see
But sometimes you can't hide
The way you feel inside
Your love is the only thing
I can't live without it
It's too good not to talk about it
About your love
And I wanna know
How exactly did I get around it?
How did I ever live without it?
Without your lovin'
A little bit of lovin'
Beats a whole lot of nothing at all
I could be
The only thing that you'd ever need
I could be
Something that you don't wanna leave
Let me be the one that's gonna make you believe
That you were really made for me
Your love is the only thing
I can't live without it
It's too good not to talk about it
About your love
And I wanna know
How exactly did I get around it?
How did I ever live without it?
Without your lovin'
Your love is the only thing
I can't live without it
It's too good not to talk about it
About your love
And I wanna know
How exactly did I get around it?
How did I ever live without it?
Without your lovin'
A little bit of lovin'
Beats a whole lot of nothing at all
Rabu, 31 Juli 2013
Kamis, 11 Juli 2013
[Berani Cerita #21] Tragedi Kolak Pisang, eh, Ubi!
"De, tolong beli kolak pisang dulu gih di sebelah warung nasi!" suruh Ibu padaku.
"Ah, aku nggak mau Bu! Suruh saja si Rahmat!" bantahku. Hm! tentu saja aku malas membelinya! Wong bukan aku yang berpuasa kok nyuruh aku beli makanan buat mereka? Huh! Capek-capekin aja.
Ibu menghembuskan napas. "Rahmat, ini uang untuk beli kolak pisang sama pastel buat buka puasa kita," suruh Ibu juga tapi kali ini ke Rahmat, sambil memberi uang.
Rahmat menurut, den mengambil uang itu lalu mengucapkan salam ketika berangkat untuk membeli kolak. Aku beda sekali dengan Rahmat. Dia sih mau-mau saja disuruh-suruh yang bikin capek. Beda denganku yang keren dan nggak kampungan kayak dia!
Sepulangnya dari membeli kolak pisang itu, tiba-tiba Ibu memberinya uang senilai Rp.20.000! wah, itu kan bisa untuk beli mi ayam, bakso, atau makanan lain! Huh, enak sekali dia! Setelah itu suara adzan berkumandang dan makanlah mereka kolak dan pastel itu, juga menawariku tapi aku diam saja. Hm, aku juga mau sih tapi aku tetap bertahan demi penolakanku tadi.
***
Saat pulang sekolah pukul tiga sore, Babeh Cungkring yang galak memanggil minta tolong beli kolak pisang. Huh, aku sebenarnya malas sekali! Tapi kupikir-pikir kalau kemarin Rahmat dapat imbalan dari Ibu Rp.20.000, aku pasti dapat lebih juga dari Babeh Cungkring yang kaya. Jadi aku mengiyakan dan pergi membeli kolak.
Sesudahnya, aku memberi kolak itu ke Babeh Cungkring. Saat memeriksa kolaknya, dia malah melempar kolak itu kepadaku. Tentu aku kaget setengah mati! Babeh tua galak ini bukannya berterimakasih malah seperti meludahiku.
"Kolak ape tuh, kagak ade pisangnye! Dasar bego lu, gue minta kolak pisang, bukan ubi!" serunya kesal.
Dia lalu masuk rumah membanting pintu. Hah! Bukannya dapat imbalan, atau bahkan kembalian uangnya, malah dapat kolak ubi yang berceceran ditubuhku.
ƒanny~
Berani Cerita #21
[Berani Cerita #20] Kaset Lama Bapak
Lho? Mana kaset lama
Bapak? tuntutku bingung
dalam hati. Kaset itu dibuat saat aku diajak jalan-jalan sama Bapak ke
studionya tahun 1987. Oh, itu saat terindah dalam hidupku dan kini kaset itu
hilang dari laci meja ruang tamu untuk menyimpannya saat sepulangku kerja.
"Ibu!
Kaset kesayanganku dari Bapak mana?" teriakku dari kamar.
"Hm..
Sepertinya tadi dimainin adek," sahut Ibu di dapur.
Oh, tidak!
Anak itu memainkannya! Pasti kalau
pulang, kaset itu sudah hilang entah kemana! Huh! Tanpa
ba-bi-bu lagi, aku melempar tas kerjaku ke bangku ruang tamu dan berlari keluar
mencari anak itu tanpa bertanya main kemana dia.
***
Sudah dua jam aku
mencari adikku tapi nggak ketemu juga. Akhirnya aku menyerah dan
pulang ke rumah dengan gontai, masih dengan baju kerja yang sudah berkeringat.
Aku berjanji akan memarahinya kalau dia sudah pulang nanti, apalagi tanpa kaset
itu!
Aku terdiam
mendengar sebuah lagu yang familiar diputar entah dimana. Suaranya sedikit
serak-serak, mungkin disetel di stereo. Tapi suara itu kudengar dari kamar Ibu.
Apa Ibu yang menyetelnya? Kudengar suara spatula yang mengoseng-oseng didapur
dan bau bawang goreng pun menyengat, pasti Ibu memasak lagi untuk makan malam.
Lalu siapa yang menyetel Kaset Bapak?
Aku pun
berjalan perlahan mendekati kamar Ibu. Dan kulihat pemandangan yang jarang
kutemui. Adikku, Hendri, dia menulis lirik lagu yang diputar itu di sebuah buku
tulis. Sedikit-sedikit dia mempelajari lirik-liriknya. Aku tersenyum. Bukan
salah siapa kalau Hendri ingin belajar menyanyi, seperti Almarhum Bapak..
Penyanyi paling hebat yang pernah kutemui, yang kini telah terlupakan.
ƒanny~
Berani Cerita #20
Kamis, 04 Juli 2013
[Berani Cerita #19] Kartika, si Gadis Malam
Dua tahun sudah aku menjadi wanita malam. Berusaha tersenyum pada tiap pria yang melewati jalan ini. Aku ada di tempat penjualan tiket neraka. Ya, aku dan para wanita lain begitu, hanya untuk sesuap nasi. Mengasihani diri sendiri.
Kami, hanya dibayar 200 sampai 100 ribu tiap melayani seorang pria. Oh, harusnya sangat mahal, tapi itu dulu, bukan sekarang. Kami sangat dibenci oleh masyarakat, tentu saja. Tapi mereka tahu apa soal kehidupan kami dibalik ini? Dan kalaupun mereka tahu, apa yang akan mereka lakukan untuk kami? Oh hidup ini sangat kejam.
Kami, hanya dibayar 200 sampai 100 ribu tiap melayani seorang pria. Oh, harusnya sangat mahal, tapi itu dulu, bukan sekarang. Kami sangat dibenci oleh masyarakat, tentu saja. Tapi mereka tahu apa soal kehidupan kami dibalik ini? Dan kalaupun mereka tahu, apa yang akan mereka lakukan untuk kami? Oh hidup ini sangat kejam.
Seorang laki-laki berjalan menunduk ke arah kami. Dia berjalan dari arah Lampu merah depan sana. Aku memerhatikannya dari tadi. Kulihat tadinya dia akan berjalan pergi, menyebrangi zebra cross di sana. Tapi kuperhatikan, dia melirik putus asa kepada kami. Oh ya, dia memilih berjalan menuju kami. Kulihat wajahnya kusut, membawa tas kerja, dan baju kemejanya juga kusut. Kurasa dia lelah dan sedang kesal, mungkin habis dipecat bosnya? atau bertengkar dengan istrinya? aku tidak yakin.
Lelaki itu menghampiriku dan berkata, "Saya bawa kamu." Aku mengangguk tersenyum dan berjalan bersamanya. Wanita lain di sebelahku bersorak senang saat dia menggandengku. Tunggu, apa dia tidak membawa kendaraan? Tapi biarlah, aku senang dia membawaku, tapi aku tak tahu kenapa.
Sudah dua jam kami berjalan-jalan saja, tanpa dia mengajakku ke sebuah tempat, tanpa kami bicara sedikitpun. Lalu dia berjalan menuju tukang bakso di sudut lingkaran taman. Dia memesankan dua mangkuk untuknya dan untukku. Kami makan tanpa bicara. Aku lalu memutuskan untuk bicara.
"Em.. Mas, dari tadi saya bingung Mas hanya mengajak saya jalan-jalan," kataku.
Diam sejenak lalu.. "Saya nggak akan sentuh kamu kok," katanya tersenyum. Aku tentu saja kaget. "Saya hanya lagi pusing dan butuh teman," katanya.
***
Hari demi hari berlalu, pria itu sering sekali datang padaku dan tak pernah macam-macam denganku, tapi dia selalu membayarku walau begitu. Pria ini bernama Arya Purnama. Dia sering bercerita padaku tentang hidupnya. Pria ini adalah duda yang baru cerai dengan mantan istrinya yang selingkuh sebulan lalu. Umur pria ini 35tahun, beda dua tahun denganku yang berumur 33.
Ya, nasibnya sama denganku. Suamiku meninggal dunia dua tahun lalu. Aku menjadi janda beranak satu. Tentu aku mempunyai anak perempuan bernama Zahra, yang masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Zahra tidak tahu pekerjaanku yang ini. Aku tak mau melihatnya sedih, apalagi akan berdampak pada masa depannya.
Hari ini, entah kenapa aku merasa begitu sedih ketika memerhatikan Zahra yang tertidur pulas. Aku sedih karna diriku sendiri. Aku sedih memikirkan masa depan anakku. Anakku, hanya dia yang kupikirkan sekarang. Diriku telah tak berguna, tidak lagi. Tapi aku tak mau membuatnya malu karna Ibunya yang seperti ini.
Tanpa pikir panjang, aku mengambil seluruh tabungan uangku dan meletakkannya di meja. Aku berjalan keluar rumah gubukku dengan pikiran kosong. Hujan menerpaku dengan lembut. Lalu aku melihat pemandangan dihadapanku setelah berjalan jauh. Kendaraan yang mengebut karna jalan dini hari yang sepi banyak kuperhatikan. Lalu dengan segenap perasaan dan keberanian, aku mulai berjalan diluar jangkauan zebra cross. Berjalan dengan gontai menunggu kendaraan yang akan melindasku. Dan.. sesuatu menarikku ke belakang. Suara pria yang lembut dan panik menyamankanku.
"Kartika! Apa kamu sudah gila?" katanya.
Oh, aku kira aku akan masuk neraka, tapi ini adalah surga!
"Inikah surga?" kataku kosong.
Tapi pria itu menyuruhku membuka mata. Lalu aku membuka mata, terlihat langit hujan yang menyambar wajahku. Aku tersenyum dan bangun, memeluk pria penolongku ini.
"Ini bukan surga, tapi malaikat," gumamku. Pria itu menangis, aku juga. Oh ya, bayangkan seperti ini di jalanan ditengah hujan.
"Jangan, jangan begini cara mengakhirinya... Menikahlah denganku!" erang pria ini.
"Ya, Mas Arya."
Fanny~
Berani Cerita #19
Selasa, 02 Juli 2013
[Berani Cerita #18] Olimpiade-yang Bego
"Haduuh Fin, kenapa sih lo selalu kabur kalau pengumuman pemenang?" keluh Siska yang berjalan gontai menghampiri Findy yang hanya duduk termenung menatap kosong ke depan.
"Nih, hadiah sama penghargaan lo.. Lo tuh udah berkali-kali kabur tau nggak?!!" gerutu Siska lagi.
Findy masih diam. Kali ini dia menyipitkan mata karna sinar matahari sore. Kancing baju kemejanya sudah terbuka semua, memperlihatkan baju oblong bertuliskan "Bitch! I'm TIRED!!!". Siska merosotkan tubuhnya dan duduk di sebelah Findy. Siska memerhatikan Findy dengan seksama.
Tiba-tiba Findy mulai bicara dengan sangat datar. "Gue capek Sis.. gue capek jadi bahan permainan, gue capek jadi yang paling dibangga-banggakan, gue mau kayak anak remaja biasa.. kayak elo," kata Findy, masih tanpa memerhatikan Siska.
Siska menelan ludah. Walaupun datar, tanpa ekspresi, kalimat yang diucapkan Findy begitu menohok bagi Siska.
***
"Ada apa pak?" Findy masuk ke ruangan Pak Ramlan, kepseknya.
"Silakan duduk," kata Pak Ramlan. Mukanya bener-bener ditekuk, napasnya terdengar menggema di sepenjuru ruangan. Coba kalo malah "aroma" napasnya yang menggema atau menyebar, wehh bakal ada Gerakan Pemakaian Masker Nasional nih...
Findy duduk di kursi depan meja Pak Ramlan.
Pak Ramlan mendengus dan mengambil sesuatu dari laci mejanya. Dia mengeluarkan amplop putih dan menyodorkannya pada Findy. "Ini dari Yayasan."
Seketika wajah Findy berubah kaget dan takut. Dia menerka-nerka isi amplop itu. Apa uang? ah, tapi kan Findy bukan anak kekurangan, malah mayoritas anak di sini anak orang kaya semua.. dan Findy termasuk salah satunya. Apa surat pengeluarannya dari sekolah? Hiii, jangan deh. Tapi kan, bisa aja. Dengan alasan, Findy sering kabur kalau pengumuman pemenang olimpiade.. Tapi kan, Findy sering mengharumkan nama sekolah? Ah, isinya bisa apa aja, yang penting jangan berprasangka buruk dulu deh Fin!
Findy mengambil amplop itu dan mulai membukanya. Ternyata isinya adalah surat. Dengan jantung berdebar, Findy mulai membaca satu-persatu kata di sana. Beberapa saat kemudian, Findy terbelalak kaget. Kalimat itu membuatnya kaget setengah mati!
Dengan ini, Yayasan memberikan kewenangan beasiswa Sekolah di luar negeri kepada Ananda Findyani Alifya atas prestasi-prestasi yang diraih dan mengharumkan nama sekolah ke jenjang Internasional.
Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki, dengan itu, Keberuntungan akan datang sendiri menghampirimu...
ƒanny-
Berani Cerita #18
Seketika wajah Findy berubah kaget dan takut. Dia menerka-nerka isi amplop itu. Apa uang? ah, tapi kan Findy bukan anak kekurangan, malah mayoritas anak di sini anak orang kaya semua.. dan Findy termasuk salah satunya. Apa surat pengeluarannya dari sekolah? Hiii, jangan deh. Tapi kan, bisa aja. Dengan alasan, Findy sering kabur kalau pengumuman pemenang olimpiade.. Tapi kan, Findy sering mengharumkan nama sekolah? Ah, isinya bisa apa aja, yang penting jangan berprasangka buruk dulu deh Fin!
Findy mengambil amplop itu dan mulai membukanya. Ternyata isinya adalah surat. Dengan jantung berdebar, Findy mulai membaca satu-persatu kata di sana. Beberapa saat kemudian, Findy terbelalak kaget. Kalimat itu membuatnya kaget setengah mati!
Dengan ini, Yayasan memberikan kewenangan beasiswa Sekolah di luar negeri kepada Ananda Findyani Alifya atas prestasi-prestasi yang diraih dan mengharumkan nama sekolah ke jenjang Internasional.
Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki, dengan itu, Keberuntungan akan datang sendiri menghampirimu...
ƒanny-
Berani Cerita #18
Hai, My name is Fanny!
Hai... Gue Fannyda Allya. Yah, tau kan dari fotonya gue masih ehem.. remaja. Ini postingan pertama gue di blog, ya karna emang baru tau cara bikin blog sih hehe..
Blog ini gue buat untuk gue yang emang lagi kepenuhan ide, untuk memposting ide-ide itu. Juga biar kalau ada urusan lain, lebih mudah kalau ada blog. Wah, sekarang emang pada memuja teknologi masa kini ya.. ada komputer, PC, laptop, internet, handphone.. coba tanpa orang cerdas pencipta teknologi itu, kita nggak akan ketinggalan jaman! ehh kok malah ngomongin masa revolusi sih.. tapi, ya iyalah.. bumi berputar gituloh! eh udah ah..
Oke, karna ngomong ngelantur jadi melenceng dari tujuan deh. Gue juga mau bilang makasih sama para pencipta teknologi modern ini, tanpa mereka kita nggak bisa seterbuka begini. Oh iya, gue juga ada account jejaring sosial kalau-kalau mau tau:
twitter: Fannyda Allya @fannydaa
facebook: afannyda@yahoo.com/fannyda.allyabaehaiv
ask.fm: http://ask.fm/fannydaa
Tumblr: fannydaallya.tumblr.com
Dan maaf kalo ada kata yang nggak berkenan. :) *jep ajep*
twitter: Fannyda Allya @fannydaa
facebook: afannyda@yahoo.com/fannyda.allyabaehaiv
ask.fm: http://ask.fm/fannydaa
Tumblr: fannydaallya.tumblr.com
Dan maaf kalo ada kata yang nggak berkenan. :) *jep ajep*
Fannyda Allya,
Langganan:
Komentar (Atom)



